August 30, 2025

Mediasiutama.com, Tenggarong – Bertahun-tahun, jalan tanah menuju rumah keluarga H. Abu di Bone, Sulawesi Selatan, hanyalah deretan lubang dan debu yang menyiksa setiap roda yang melintas. Saat hujan, jalur itu berubah menjadi kubangan licin, dan di musim kemarau, debu tebal mengepul bagai kabut. Dari perantauannya di Kutai Kartanegara, H. Abu membawa pulang tekad lama: menunaikan nazar dengan memperbaiki jalan kampungnya, sebagai tanda syukur sekaligus cinta pada tanah kelahiran.

Kegiatan gotong royong yang melibatkan keluarga besar dan warga setempat itu menjadi titik awal perubahan. Perbaikan jalan dilakukan secara swadaya, dimulai dari pembersihan hingga penimbunan material. “Bapak memang meniatkan kegiatan ini sebagai ibadah. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahun, baik di Bone maupun di Kukar,” ujar H. Rusli, putra sulung H. Abu.

Namun, gaung kegiatan ini tak luput dari sorotan publik. Di media sosial, muncul komentar yang mengaitkannya dengan urusan politik di Kutai Kartanegara. Menanggapi hal itu, Rusli menegaskan, perbaikan jalan di Bone murni inisiatif keluarga, bukan program pemerintah atau agenda politik.

H. Abu sendiri dikenal sebagai sosok dermawan yang rutin membantu membangun dan memperbaiki fasilitas umum, mulai dari jalan desa hingga rumah ibadah. “Bapak selalu bilang, rezeki itu harus kembali ke masyarakat,” tutur Rusli, yang juga kakak dari Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin.

Meski menyadari adanya pihak yang berprasangka, keluarga H. Abu tetap melanjutkan niatnya. “Kalau ada yang salah paham, kami mohon maaf. Nazar ini adalah komitmen kepada Allah dan masyarakat, bukan janji politik. Politik bisa berganti, tapi kepedulian harus tetap hidup,” tegas Rusli.

Semangat gotong royong itu pun menjadi pesan tersendiri bagi warga: bahwa kepedulian tak seharusnya terhenti hanya karena perbedaan pandangan. (Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *