February 15, 2026

Mediasiutama.com, Tenggarong – Memasuki bulan Desember yang identik dengan meningkatnya kebutuhan daging untuk perayaan Natal dan Tahun Baru, sejumlah komoditas pangan biasanya mengalami kenaikan permintaan hingga berdampak pada harga di pasaran (8/12/2025). Namun, kondisi berbeda terlihat pada sektor peternakan babi di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Seorang peternak lokal mengungkapkan bahwa harga jual babi justru cenderung stabil dan tidak terpengaruh oleh momentum hari besar keagamaan.

Peternak yang ditemui di kawasan Tenggarong tersebut menjelaskan bahwa fluktuasi harga babi lebih dipengaruhi oleh kondisi peternak dan perkembangan hewan itu sendiri ketimbang faktor musiman. “Enggak tentu, tergantung pembelinya. Biasanya harga tetap, enggak naik meskipun menjelang Natal,” ujarnya.

Menurutnya, harga babi ditetapkan berdasarkan berat badan dan usia. Untuk babi dengan berat kecil sekitar 40 kilogram harga dapat mencapai Rp100.000 per kilogram karena masih berada pada masa pertumbuhan. Sedangkan babi berukuran besar cenderung dijual dengan harga Rp 70.000per kilogram.

Penentuan harga tersebut juga dapat berubah ketika peternak berada dalam kondisi membutuhkan dana sehingga harga turun karena penawaran pembeli. “Kadang orang perlu uang juga, jadi jatuh harga karena ditawar,” tambahnya.

Dalam hal permintaan, pembeli babi tidak hanya berasal dari Tenggarong, tetapi juga dari daerah sekitar, termasuk Kabupaten Kutai Barat. Meski begitu, untuk tahun ini sang peternak belum menjual babi karena seluruh ternak masih dalam fase pertumbuhan dan belum mencapai usia ideal panen. “Saat ini belum ada saya jual karena masih kecil. Bulan dua baru saya jual,” jelasnya.

Proses pemeliharaan babi juga membutuhkan ketelatenan, termasuk pemberian pakan seperti dedak, ampas tahu, daun ubi, kangkung, hingga nasi sisa yang masih layak konsumsi.

Pembersihan kandang dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore, untuk menjaga kesehatan hewan. Peternak itu juga mengungkapkan bahwa biaya pakan yang tinggi menjadi alasan utama tidak terburu-buru menjual babi berukuran kecil karena berpotensi merugi.

Dengan harga stabil dan permintaan yang tidak selalu tetap, para peternak babi di Tenggarong tetap berupaya menjaga kualitas ternak mereka sembari menyesuaikan waktu penjualan dengan kondisi pasar dan usia hewan.

Situasi ini sekaligus menunjukkan bahwa komoditas babi memiliki pola perdagangan yang unik dan berbeda dibandingkan daging ayam maupun sapi yang cenderung mengalami lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan.(Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *