February 23, 2026

Mediasiutama.com, Tabang – Kabupaten Kutai Kartanegara, menyusul tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah hulu sungai dalam beberapa hari terakhir. Luapan air sungai berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, dengan 18 dari 19 desa dilaporkan terendam banjir, akses darat terputus di sejumlah titik strategis, serta pasokan listrik dan logistik warga mengalami gangguan.

Peristiwa banjir ini tercatat mulai muncul sejak Kamis (8/1/2026) di beberapa rukun tetangga (RT) Desa Sidomulyo. Pada fase awal, ketinggian air masih tergolong rendah, hanya beberapa sentimeter dan belum merendam seluruh kawasan desa. Namun, situasi berubah drastis pada Minggu (11/1/2026), ketika debit air meningkat tajam hingga mencapai hampir dua meter di sejumlah wilayah permukiman.

Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi merupakan banjir susulan. Menurutnya, banjir pada Kamis lalu masih dalam kategori ringan, sementara banjir pada Minggu membawa dampak yang jauh lebih luas dan serius.

“Dari total 19 desa di Kecamatan Tabang, sebanyak 18 desa terdampak banjir. Hanya Desa Bila Talang yang tidak terendam karena memiliki elevasi tanah lebih tinggi dibanding desa lainnya,” ujar Rakhmadani saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).

Meski ketinggian genangan air tergolong tinggi, hingga saat ini belum terjadi pengungsian massal. Warga memilih bertahan di rumah masing-masing karena banjir di wilayah Tabang dikenal sebagai banjir tahunan yang umumnya surut dalam kurun waktu satu hingga dua hari.

“Berdasarkan laporan dari pemerintah desa, masyarakat masih bertahan karena banjir ini rutin terjadi setiap tahun dan biasanya tidak berlangsung lama,” jelasnya.

Namun demikian, dampak banjir tetap dirasakan cukup luas, terutama pada sektor infrastruktur dan layanan dasar.

Sejumlah akses darat dilaporkan terputus, salah satunya di jalur Poros PU yang melintasi Desa Umaq Dian, tepatnya di sekitar Jembatan Penjalin. Terendamnya jalur utama tersebut menyebabkan distribusi logistik ke wilayah hulu terganggu, termasuk pasokan bahan bakar solar untuk operasional pembangkit listrik PLN.

“Suplai solar ke PLN hari ini tidak bisa masuk karena akses darat terendam banjir,” ungkap Rakhmadani.

Akibat terhambatnya pasokan bahan bakar, kondisi kelistrikan di Kecamatan Tabang dilaporkan tidak stabil. Aliran listrik kerap menyala dan padam secara bergantian, sehingga mengganggu aktivitas warga.

“Listrik tidak menyala selama 24 jam penuh. Kadang hidup, kadang mati, terutama saat genangan air masih tinggi,” katanya.

Dalam upaya penanganan, pihak kecamatan terus melakukan koordinasi intensif dengan kepala desa dan perangkat desa melalui forum komunikasi yang ada. Pemantauan lapangan dilakukan di sejumlah titik rawan banjir, meski diakui masih terkendala keterbatasan sarana dan prasarana, terutama untuk mobilisasi di wilayah perairan.

Rakhmadani menegaskan, pemerintah kecamatan terus memantau perkembangan kondisi banjir dan menyiagakan jajaran untuk merespons cepat apabila terjadi situasi darurat. Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, mengingat curah hujan di wilayah hulu masih tinggi dan berpotensi memicu kenaikan debit air susulan.(Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *