February 15, 2026

Mediasiutama.com, Kutai Kartanegara – Rumah Budaya Kutai (RBK) hadir sebagai ruang alternatif pembelajaran budaya yang terbuka bagi pelajar dan masyarakat umum. Berdiri sejak akhir 2017 hingga awal 2018, pasca lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, RBK dibangun atas semangat kolektif para pegiat seni dan budaya di Kutai Kartanegara sebagai respons atas minimnya ruang pembinaan karakter dan kebudayaan, khususnya bagi generasi muda.

Rahmat Effendi, selaku narasumber dari Rumah Budaya Kutai, menjelaskan bahwa RBK didirikan oleh sejumlah tokoh dan pegiat budaya, di antaranya almarhum Kabudi, Pak Erwan dari Kukar Kreatif, Mas Triandi, Pak Iyun, serta beberapa tokoh budaya lainnya. Rumah budaya ini dirancang bukan sebagai lembaga formal, melainkan sebagai komunitas yang berfungsi memfasilitasi, menyambungkan, dan merajut ekosistem kebudayaan agar dapat tumbuh secara alami.

“RBK ini terbuka. Siapa pun boleh datang, baik pelajar, seniman, maupun masyarakat umum yang ingin belajar atau berbagi,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme kunjungan edukasi pun dibuat sederhana. Sekolah atau komunitas yang ingin berkunjung cukup melakukan komunikasi langsung dengan admin atau pengelola RBK tanpa prosedur administrasi yang rumit.

Dalam praktik pembelajarannya, RBK mengusung metode permainan tradisional sebagai media utama edukasi. Metode ini tidak hanya bertujuan mengenalkan kebudayaan lokal, tetapi juga membentuk mental, keberanian, dan kemampuan komunikasi anak-anak. Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan jenjang usia.

Untuk tingkat SD, anak-anak diajak belajar berbicara dan berani bertanya. Di tingkat SMP, mereka dilatih menjawab dan mengemukakan pendapat, sementara siswa SMA diarahkan untuk mampu mempresentasikan gagasan di depan publik.

“Kelemahan anak-anak kita hari ini bukan di kemampuan, tapi di mental. Mereka kurang ruang untuk tampil dan berbicara,” jelas Rahmat.

Melalui ruang-ruang budaya yang diciptakan RBK, anak-anak didorong agar terbiasa tampil, berinteraksi, dan percaya diri.

RBK juga berperan sebagai penghubung antara sekolah, pelatih seni, dan komunitas budaya. Ketika sekolah ingin mengenalkan permainan tradisional atau kesenian tertentu, RBK membantu mengomunikasikan dengan pihak-pihak yang kompeten, bahkan siap turun langsung ke sekolah.

Sebaliknya, RBK juga membuka ruang bagi para seniman atau pelatih yang ingin berbagi ilmu tetapi tidak memiliki tempat.

Lebih jauh, Rahmat menegaskan bahwa tujuan utama Rumah Budaya Kutai adalah mengembalikan nilai adab dan akhlak melalui kebudayaan. Nilai tersebut diyakini akan bermuara pada gerakan ekonomi kreatif berbasis budaya, sehingga kebudayaan tidak hanya lestari, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan.

“Bagi kami, kebudayaan itu bukan nostalgia, tapi kekuatan masa depan,” tutupnya.(Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *