Mediasiutama.com, TENGGARONG – Upaya pelestarian warisan budaya tak lagi berhenti pada tataran wacana akademik. Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Kalimantan Timur (ISBI Kaltim) membuktikan komitmen tersebut melalui kegiatan Kuliah Praktik Mata Kuliah Konservasi Seni Kriya yang dilaksanakan di Rumah Budaya Kutai, Tenggarong, pada Rabu (18/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 14.30 WITA ini difokuskan pada konservasi perangkat gamelan serta senjata tradisional Mandau sebagai bagian dari revitalisasi benda cagar budaya.
Praktik lapangan ini dipandu oleh Aruman, S.Sn., M.A., dosen pengampu yang berasal dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan kini bertugas mengajar Seni Kriya di ISBI Kaltim, didampingi Yuni Sarah, S.Sn., M.Sn. Keduanya menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam konservasi, mulai dari identifikasi material, analisis tingkat kerusakan, hingga teknik penanganan yang sesuai dengan karakter logam dan kayu.
Objek konservasi meliputi satu set instrumen gamelan Bonang dan Saron serta Mandau, senjata tradisional khas Kalimantan yang sarat nilai simbolik dan historis. Pada instrumen gamelan, mahasiswa melakukan pembersihan oksidasi pada permukaan logam menggunakan teknik poles presisi untuk mengembalikan kilau tanpa mengikis struktur aslinya.
Sementara itu, pada bagian tatakan kayu ukir dilakukan perbaikan finishing melalui coating ulang guna memperkuat daya tahan material sekaligus mempertahankan detail artistik ukiran.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa lintas program studi, di antaranya dari Prodi Tekstil, Keramik, dan Kayu. Kolaborasi multidisipliner tersebut memperkaya proses konservasi karena setiap mahasiswa membawa perspektif keilmuan berbeda dalam memahami sifat material dan teknik restorasi. Pendekatan integratif ini menegaskan bahwa konservasi seni kriya bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan praktik akademik berbasis riset, ketelitian, dan kepekaan terhadap nilai sejarah.
“Konservasi ini bukan sekadar pembersihan fisik, melainkan upaya menjaga nilai estetika dan historis agar benda-benda seni ini tetap dalam kondisi prima layaknya baru,” ujar Aruman saat mendampingi mahasiswa di lokasi kegiatan.
Melalui dokumentasi yang dihimpun, tampak mahasiswa bekerja secara sistematis, mulai dari observasi kondisi awal, pencatatan detail kerusakan, proses pembersihan bertahap, hingga evaluasi akhir hasil perawatan. Kehadiran ISBI Kaltim di ruang pelestarian budaya seperti Rumah Budaya Kutai menjadi bukti konkret peran strategis perguruan tinggi seni dalam menjaga kesinambungan tradisi.
Dengan langkah nyata ini, artefak budaya Kutai tidak hanya terawat secara fisik, tetapi juga diperkuat maknanya sebagai identitas kultural yang tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.
(Yuliana W)

