March 25, 2026

Mediasiutama.com, TENGGARONG SEBERANG – Suasana religius berpadu dengan kemeriahan budaya mewarnai puncak perayaan Pengerupukan di kawasan “Kampung Bali” Desa Kerta Buana (L4), Rabu malam (18/3/2026). Ribuan warga dari berbagai wilayah Tenggarong Seberang memadati halaman Pura Pasupati untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh, sebuah tradisi sakral yang menjadi bagian penting dalam rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Perayaan tahun ini menampilkan beragam ogoh-ogoh dengan karakter unik dan penuh makna filosofis. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah ogoh-ogoh raksasa karya banjar setempat yang merepresentasikan sosok Bhuta Kala. Figur tersebut digambarkan dengan mata merah menyala, taring tajam, serta ekspresi garang, tengah mencengkeram seorang wanita dalam balutan busana adat Bali.

Tata pencahayaan dramatis di sekitar pura semakin memperkuat kesan hidup pada patung tersebut, menghadirkan narasi visual tentang pertarungan antara kebaikan dan keburukan.

Secara filosofis, Bhuta Kala bukan sekadar simbol kengerian, melainkan representasi sifat-sifat negatif manusia seperti amarah, keserakahan, dan egoisme.

Melalui prosesi arak-arakan hingga pembakaran, masyarakat diajak untuk merefleksikan diri dan “membakar” sisi gelap tersebut sebelum memasuki tahun baru Saka yang identik dengan keheningan dan introspeksi.

Arak-arakan dimulai dari area Pura Pasupati dengan iringan gamelan baleganjur yang menghentak dan membangun suasana magis. Getaran ritmis alat musik tradisional tersebut menjadi elemen penting yang menghidupkan prosesi, sekaligus mengiringi perjalanan ogoh-ogoh mengelilingi desa.

Tidak hanya ogoh-ogoh berukuran besar, anak-anak desa juga turut ambil bagian dengan menampilkan ogoh-ogoh mini hasil kreativitas mereka, menambah warna dalam perayaan tersebut.

Keterlibatan lintas generasi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dijaga, tetapi juga diwariskan secara aktif. Pengerupukan di Kerta Buana menjadi ruang edukasi budaya sekaligus sarana mempererat kebersamaan antarwarga di tengah kehidupan masyarakat yang heterogen.

Seiring waktu, pawai ogoh-ogoh di desa ini berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang dinanti masyarakat luas di Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Kartanegara. Selain menampilkan kekayaan tradisi Bali, kegiatan ini juga menjadi simbol toleransi dan harmoni antarumat beragama.

“Saya selalu datang setiap tahun. Tahun ini terasa lebih meriah, terutama dari segi kreativitas ogoh-ogoh yang luar biasa,” ujar Susi, warga Tenggarong Seberang yang turut menyaksikan acara tersebut.

Sebagai penutup, prosesi dilanjutkan dengan pralina atau pembakaran ogoh-ogoh di lapangan desa. Ritual ini menjadi simbol pemusnahan energi negatif, sekaligus penanda kesiapan umat Hindu menyambut Nyepi dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

Pengerupukan di Kerta Buana kembali menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas hidup yang terus dirawat. Di tengah perantauan, masyarakat Bali di desa ini berhasil menjaga akar budaya mereka, sekaligus memperkaya mozaik kebudayaan Indonesia yang beragam.

(Yuliana w)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *