August 30, 2025

Mediasiutama.com, Tenggarong – Polemik pasca Festival Jembayan Kampung Tua (FJKT) 2025 di Desa Jembayan, Kutai Kartanegara, memunculkan beragam tudingan di tengah masyarakat. Kepala Desa Jembayan, Erwin, angkat bicara untuk meluruskan pernyataan yang disampaikan Sopyan dan rekan-rekannya dalam aksi unjuk rasa pada Rabu (13/8/2025).

Erwin menegaskan, tuduhan bahwa pemerintah desa tidak melibatkan lembaga kemasyarakatan dan lembaga adat dalam pelaksanaan FJKT tidak benar. Justru, kata dia, Pemdes Jembayan mengalokasikan anggaran sekitar Rp75 juta untuk menghidupkan kembali festival yang sempat vakum beberapa tahun, termasuk akibat pandemi Covid-19. “Kalau saya tidak melibatkan mereka, kenapa saya membuat kegiatan itu? Tahun 2023 sempat dianggarkan tapi batal, jadi 2025 kami ambil alih dan bentuk panitia resmi lewat SK kepala desa,” ujarnya.

Ia juga membantah isu memecah belah warga, menegaskan kondisi Desa Jembayan tetap kondusif. “Setiap tahun kami menggelar upacara HUT RI, dan pengibaran bendera dilakukan oleh warga dari berbagai latar belakang. Itu bukti kebersamaan,” tegasnya.

Sorotan publik juga tertuju pada hiburan DJ yang digelar usai penutupan FJKT. Erwin mengaku awalnya tidak diberi tahu, namun kegiatan tersebut sudah terlanjur diumumkan di media sosial. “Saya izinkan dengan berat hati meski lokasi di depan kantor desa menurut saya kurang pantas. Saya ikut memantau, sempat terjadi keributan kecil, tapi bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua Adat Jembayan, Sopyan, membenarkan bahwa puncak ketegangan terjadi saat acara hiburan rakyat itu berlangsung. Ia mengatakan acara tersebut murni inisiatif masyarakat. “Selesai FJKT, masyarakat meminta ada hiburan dengan mengundang DJ,” ujarnya.

Namun, suasana memanas ketika di penghujung acara, Erwin menegur soal kebersihan dengan nada tinggi. “Sehingga saya terpancing dengan perkataan beliau,” pungkas Sopyan. (Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *