February 15, 2026

Mediasiutama.com, Tenggarong – Perubahan drastis pola konsumsi informasi publik memaksa media massa, khususnya media lokal, untuk melakukan transformasi serius. Di tengah dominasi media sosial dan konten viral, jurnalisme konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman. Hal ini mengemuka dalam diskusi terbuka yang digelar insan pers Taman Tanjong, Tenggarong, Minggu (21/12/2025) malam,Kalimantan Timur dalam forum Insan Pers Bekesah di Tenggarong.

Salah satu pemantik diskusi, pendiri media Selasar, Bang Awan, mengungkapkan realitas yang kini dihadapi industri pers. Berdasarkan riset Reuters Institute, tingkat kepercayaan publik terhadap media arus utama mengalami penurunan, sementara influencer dan kreator konten justru semakin dipercaya sebagai sumber informasi.

“Faktanya, masyarakat hari ini lebih percaya kepada figur yang mereka lihat langsung di layar. Mau tidak mau, jurnalis harus berani mengambil peran itu,” ujar Bang Awan.

Ia menilai, jurnalis tidak cukup hanya menulis di balik meja redaksi. Ke depan, jurnalis dituntut hadir sebagai wajah informasi tampil di depan kamera, menjelaskan konteks, dan mempertanggungjawabkan fakta yang disampaikan.

Konsep jurnalis sebagai kreator konten ini, menurutnya, masih tergolong baru di Kalimantan Timur, namun terbukti efektif menjangkau audiens yang lebih luas.

Bang Awan mencontohkan bagaimana sebuah artikel editorial yang hanya dibaca ribuan orang di laman web, dapat menjangkau ratusan ribu hingga jutaan audiens ketika dikemas dalam format video pendek di platform media sosial. Ia menegaskan, kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih menyukai konten visual bukan sekadar asumsi, melainkan hasil riset perilaku audiens.

Diskusi juga mengulas persoalan krusial lain, yakni kemandirian finansial media. Ketergantungan berlebihan terhadap anggaran pemerintah daerah dinilai berpotensi melemahkan independensi pers. Perwakilan Kaltim Today menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan agar media tetap sehat secara bisnis sekaligus berani menjalankan fungsi kontrol sosial.

“Kalau media sepenuhnya hidup dari APBD, kritik akan selalu berada di bawah bayang-bayang kontrak. Begitu kerja sama dihentikan, media bisa mati,” ungkapnya.

Karena itu, pengelolaan media sosial secara profesional menjadi salah satu strategi utama. Kaltim Today menargetkan capaian jutaan reach setiap bulan di platform seperti TikTok dan Instagram. Data jangkauan, interaksi, dan demografi audiens kini menjadi nilai jual utama kepada pengiklan, baik dari sektor pemerintah maupun swasta.

“Pengiklan hari ini tidak hanya melihat nama besar media, tapi data. Seberapa luas jangkauan dan seberapa besar dampaknya,”jelasnya.

Namun, transformasi digital tidak lepas dari tantangan serius. Tekanan ekonomi, tuntutan kecepatan, hingga risiko intimidasi akibat pemberitaan kritis masih menjadi bayang-bayang bagi jurnalis.

Sejumlah wartawan mengakui pernah menghadapi ancaman keselamatan, baik secara langsung maupun melalui tekanan nonfisik.

Meski demikian, para narasumber sepakat bahwa keselamatan jurnalis harus menjadi prioritas utama. Idealisme jurnalistik, menurut mereka, tidak boleh mengorbankan nyawa.

“Tidak ada berita yang seharga nyawa. Jurnalisme harus berani, tapi juga cerdas dan aman,” tegas salah satu Pembicara.

Forum ini menjadi ruang refleksi bersama bagi media lokal untuk mencari keseimbangan antara idealisme, inovasi, dan keberlanjutan bisnis. Di tengah disrupsi digital yang terus bergerak cepat, masa depan pers lokal ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan integritas.(Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *