Mediasiutama.com, Tenggarong – Festival Erau Adat Kutai Kartanegara kembali menampilkan ragam tradisi leluhur yang sarat makna. Dari masyarakat Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun, dua elemen sakral selalu menjadi pusat perhatian dalam prosesi Belian, yakni bahasa dewa (bahasa langit) dan nasi beragi. Keduanya bukan sekadar bagian dari ritual, tetapi diyakini sebagai penghubung manusia dengan alam gaib (19/09/2025).
Bahasa dewa digunakan sebagai medium komunikasi khusus selama upacara berlangsung. Menurut Murad, Kepala Adat Kedang Ipil, bahasa ini berbeda dari bahasa sehari-hari.
“Tidak semua orang bisa memahami bahasa dewa. Bahkan orang Kedang sendiri tidak otomatis tahu artinya. Kalau digunakan bahasa biasa, terdengar kasar di telinga mereka, sehingga harus dengan bahasa khusus,” jelasnya.
Murad menegaskan, bahasa dewa telah diwariskan turun-temurun dan menjadi identitas budaya yang langka. Bahkan, sebuah kajian akademis mencatat bahasa serupa dinyatakan punah di dunia sejak 2016, terakhir ditemukan di Meksiko. “Namun di Kedang Ipil masih tetap hidup, inilah kekayaan budaya yang tidak ternilai,” tambahnya.
Selain bahasa dewa, prosesi Belian juga selalu menghadirkan nasi beragi atau disebut lingga bulan. Hidangan ini berupa nasi tujuh warna yang melambangkan kehadiran tujuh dewa.
“Nasi beragi itu bahasa utama dalam Belian. Warna-warna tersebut bukan sekadar hiasan, tapi simbol para dewa yang datang,” ungkap Sartin, Wakil Kepala Adat sekaligus Penghulu Belian.
Dalam prosesi, nasi beragi disertai berbagai sesaji lain, antara lain manci dari tepung, telur mentah, hingga tartil lingga bulan. Seluruhnya dipersembahkan bagi para pengawal dewa agar tidak mengganggu jalannya upacara. “Dengan begitu, seluruh ritual dapat berlangsung khidmat,” jelas Sartin.
Bagi masyarakat Kedang Ipil, bahasa dewa dan nasi beragi merupakan inti keseimbangan spiritual dalam Belian. Kehadirannya di Festival Erau membuktikan bahwa warisan leluhur Kutai masih terjaga dan terus hidup hingga hari ini.(Yuliana W)

