April 6, 2026

Mediasiutama.com, Tenggarong – Di tengah khidmatnya rangkaian upacara bepelas di Keraton Kutai Kartanegara, sebuah ritual sakral bernama Menggoyak Rendu menjadi sorotan utama. Prosesi ini terlihat sederhana, namun menyimpan makna mendalam. Seorang dewa adat menggoyangkan serumpun daun pohon beringin yang digantung di dalam gelandang, sementara lantunan suling dewa mengiringinya dengan nada mendayu dan penuh rasa mistis.

Bagi masyarakat Kutai, beringin bukan sekadar pohon rindang yang memberikan keteduhan. Ia diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur yang senantiasa menjaga keturunannya. Karena itu, ritual Menggoyak Rendu bukan hanya simbol penghormatan, tetapi juga wujud pengingat akan ikatan yang tidak terputus antara manusia, alam, dan dunia gaib. Setiap goyangan beringin yang dilakukan dalam prosesi ini seakan menghadirkan kehadiran leluhur yang memberikan restu dan perlindungan.

Suara suling dewa yang mengiringi semakin memperkuat suasana magis. Alunannya diyakini membuka jalan komunikasi spiritual, menghubungkan dua dimensi dunia manusia dan dunia leluhur. Nada-nada yang mengalun tidak sekadar musik, melainkan doa yang menembus batas kasat mata. Bagi yang hadir, momen ini sering menimbulkan rasa haru sekaligus takzim, seolah ikut larut dalam ruang spiritual yang suci.

Lebih dari sekadar ritual adat, Menggoyak Rendu merupakan cermin kearifan lokal Kutai Kartanegara. Tradisi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan hidup, penghormatan terhadap alam, serta penghargaan kepada leluhur. Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, keberadaan prosesi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Kutai tetap berpegang pada identitas budayanya. Ia bukan sekadar warisan, tetapi juga pesan abadi tentang harmoni antara manusia, leluhur, dan alam semesta. (Yuliana W)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *