Bukit Pandang,Sangatta

Mediasiutama.com, KUTAI TIMUR – Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur memperkuat infrastruktur wisata sebagai strategi menjaga perputaran ekonomi lokal, agar ribuan karyawan perusahaan tambang dan perkebunan tetap menghabiskan waktu liburannya di Kutim, alih-alih keluar ke kota tetangga seperti Bontang dan Samarinda.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Nurullah, menjelaskan bahwa fenomena eksodus rutin setiap akhir pekan kerap terjadi, sehingga potensi belanja masyarakat lokal justru tersedot ke wilayah lain, merugikan pertumbuhan UMKM dan ekonomi sekitar objek wisata.
“Kita berupaya karyawan yang kerja di Kutai Timur ini jangan keluar ke Bontang atau Samarinda. Kita ingin mereka menikmati destinasi wisata yang ada di sini saja,” tegas Nurullah saat ditemui di kantornya,belum lama ini.
Ia menambahkan bahwa siklus liburan dari Jumat hingga Minggu menjadi momen krusial, di mana potensi belanja pekerja industri sangat besar. Jika fasilitas lokal tidak memadai, uang tersebut secara otomatis mengalir ke kota tetangga, melemahkan ekonomi lokal dan peluang UMKM berkembang.
Nurullah menegaskan strategi pemerintah daerah saat ini difokuskan pada peningkatan standar kenyamanan fasilitas wisata. Berbagai pembangunan dilakukan, mulai dari toilet bersih, gazebo, hingga perbaikan akses jalan, khususnya di Pantai Marang dan kawasan pesisir lainnya, agar daya saing wisata Kutim semakin meningkat.
“Yang kita kejar sekarang bukan wisatawan mancanegara dulu, melainkan kepuasan warga lokal. Kalau mereka betah di sini, uang mereka berputar, dan otomatis kesejahteraan masyarakat sekitar ikut meningkat,” ujarnya menekankan filosofi pembangunan wisata berbasis komunitas.
Selain itu, Nurullah menyebut bahwa pembenahan ini juga berfungsi sebagai upaya edukasi dan promosi budaya lokal. Setiap destinasi yang direnovasi tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga menampilkan identitas dan kekayaan alam Kutim, sehingga warga bisa merasa bangga dan tertarik untuk menghabiskan liburannya di daerah sendiri.
Menurutnya, pembangunan fasilitas tidak dilakukan sporadis, tetapi terencana dan menyesuaikan kebutuhan pengunjung lokal, termasuk menambahkan area bermain anak, ruang kuliner, dan jalur pejalan kaki yang aman. Semua upaya diarahkan agar pengalaman liburan di Kutim nyaman, menarik, dan aman, sehingga masyarakat memilih tinggal di destinasi lokal.
Nurullah optimistis, jika program ini berjalan konsisten, Kutim akan memiliki wisata unggulan yang tidak hanya memikat warga sendiri tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan UMKM dan perekonomian kreatif di sekitarnya.
“Kalau orang sini senang dan nyaman, mereka pasti kembali lagi. Dari situ perputaran ekonomi meningkat, UMKM naik kelas, dan Kutim makin kuat secara ekonomi,” tutup Nurullah dengan keyakinan penuh terhadap strategi wisata berbasis lokal ini.(Adv/Diskominfo Staper Kutim)

