Mediasiutama.com, Samarinda – Persoalan proyek pembangunan sekolah yang belum tuntas kembali menjadi sorotan serius DPRD Kalimantan Timur. Sejumlah pembangunan ruang kelas, sekolah baru hingga fasilitas praktik siswa di berbagai daerah dilaporkan mengalami keterlambatan, putus kontrak, bahkan menyisakan kerusakan bangunan meski proyek telah dinyatakan selesai.
Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan administrasi proyek, melainkan telah berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan dan kenyamanan belajar ribuan siswa di Kalimantan Timur.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Syahariah Mas’ud, menegaskan pihaknya akan mengawal ketat penyelesaian proyek-proyek pendidikan bermasalah agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap tahun anggaran.
Temuan itu diperoleh setelah Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Kaltim melakukan inspeksi lapangan ke sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Timur hingga Mahakam Ulu. Dari hasil peninjauan tersebut, DPRD menemukan masih banyak pekerjaan fisik sekolah yang belum rampung meski telah dianggarkan sejak 2025.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian utama ialah pembangunan SMAN 3 Long Ikis di Kabupaten Paser. Proyek tersebut disebut mengalami putus kontrak karena kontraktor pelaksana dinilai tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai target. Hingga kini, progres pembangunan disebut baru sebatas rangka bangunan.
Menurut Syahariah, hambatan proyek bukan hanya disebabkan kondisi medan yang cukup berat, tetapi juga persoalan pembiayaan yang dinilai tidak memadai sejak awal perencanaan.
Akibat keterlambatan pembangunan itu, para siswa masih harus menjalani kegiatan belajar mengajar di bangunan sementara yang kondisinya jauh dari layak. Beberapa ruang belajar dilaporkan mengalami kebocoran saat hujan turun sehingga proses pembelajaran kerap terganggu.
“Anak-anak yang akhirnya menjadi korban. Fasilitas pendidikan yang layak seharusnya menjadi prioritas,” ujar Syahariah usai Rapat Paripurna DPRD Kaltim, Senin (18/5/2026).
Tak hanya di Paser, persoalan serupa juga ditemukan di SMKN 1 Penajam Paser Utara.
Pembangunan ruang praktik siswa dan renovasi ruang kelas di sekolah tersebut belum selesai hingga kontrak proyek akhirnya diputus.
Sementara itu, pembangunan unit sekolah baru SMAN 2 Paser Belengkong dengan nilai proyek mencapai Rp25,2 miliar juga belum dapat berjalan optimal karena masih terkendala persoalan hibah lahan.
Permasalahan fasilitas pendidikan juga terjadi di SMK 7 Balikpapan. Sekolah tersebut masih kekurangan bangku kelas sehingga terpaksa meminjam fasilitas dari sekolah lain. Selain itu, akses menuju sekolah juga sering tergenang saat air laut pasang, sehingga mengganggu aktivitas siswa maupun tenaga pengajar.
Di Kabupaten Kutai Timur, Pansus turut menemukan adanya keretakan pada bangunan ruang kelas baru SMKN 2 Sangatta Utara meski proyek telah dinyatakan selesai dikerjakan. Temuan itu memunculkan kekhawatiran terkait kualitas pengerjaan proyek pendidikan yang menggunakan anggaran daerah.
Berdasarkan hasil uji petik Pansus LKPJ, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim tercatat memiliki 10 kegiatan putus kontrak pada Tahun Anggaran 2024 dan delapan kegiatan serupa pada 2025. DPRD menilai penyelesaian proyek lama belum maksimal, namun pelaksanaan pekerjaan baru terus berjalan tanpa evaluasi menyeluruh.
Komisi IV DPRD Kaltim pun dijadwalkan kembali melakukan inspeksi lapangan untuk memastikan kondisi riil sekolah-sekolah yang mengalami kendala pembangunan.
Selain mendesak percepatan penyelesaian proyek, DPRD juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim lebih selektif dalam menentukan kontraktor pelaksana agar proyek pendidikan tidak kembali mangkrak di tengah jalan.
Syahariah menegaskan, persoalan fasilitas pendidikan tidak boleh dipandang sebagai masalah teknis semata. Menurutnya, kualitas sarana pendidikan berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda dan pemerataan akses pendidikan di Kalimantan Timur.
“Jangan sampai pembangunan sekolah hanya selesai di atas kertas, sementara siswa masih belajar dalam kondisi yang tidak layak,”tegasnya.
(Yuliana w)

