filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: portrait;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: off;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 43;
Mediasiutama.com, TENGGARONG – Suara benturan gasing yang berputar di atas arena menjadi pemandangan khas setiap sore di Lapangan Stadion Rondong Demang, Tenggarong. Menjelang berbagai ajang perlombaan, para pemain gasing dari Komunitas MGC (Mangkuraja Gasing Comunity), Mangkuraja Gasing Team, serta sejumlah komunitas gasing lainnya semakin mengintensifkan latihan guna mempersiapkan kemampuan teknik, ketahanan, dan kekompakan tim, Jum’at, (26/06/2026) .
Latihan rutin tersebut tidak hanya menjadi ajang meningkatkan kualitas permainan, tetapi juga menjadi bentuk nyata komitmen para pegiat gasing dalam menjaga keberlangsungan salah satu permainan tradisional yang telah lama menjadi identitas budaya masyarakat Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Antusiasme para pemain dari berbagai usia menunjukkan bahwa permainan tradisional ini masih memiliki tempat di hati masyarakat meskipun berada di tengah derasnya perkembangan teknologi dan permainan modern.
Menurut narasumber, Aji Ainuddin, latihan tidak hanya dipusatkan di Stadion Rondong Demang. Para pemain juga kerap memanfaatkan sejumlah ruang publik lainnya, seperti Taman Pintar, Taman Musik, hingga lokasi-lokasi terbuka yang memungkinkan untuk dijadikan arena latihan.
“Latihan kami tidak terpaku di satu tempat saja. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi latihan agar kemampuan para pemain terus meningkat. Semangat teman-teman juga sangat tinggi menjelang perlombaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, permainan gasing memiliki nilai budaya yang sangat kuat bagi masyarakat Tenggarong. Karena itu, setiap penyelenggaraan Erau, perlombaan gasing hampir selalu menjadi salah satu cabang yang dinantikan masyarakat maupun para peserta dari berbagai daerah.
Aji Ainuddin mengungkapkan rasa syukur karena selama ini komunitas gasing di Tenggarong telah berhasil menorehkan berbagai prestasi, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Berbagai gelar juara yang diraih menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten mampu menghasilkan atlet-atlet gasing yang berprestasi sekaligus menjadi motivasi untuk terus mengembangkan olahraga tradisional tersebut.
“Kami bersyukur sudah banyak meraih juara di tingkat kabupaten hingga provinsi. Prestasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berlatih dan mempertahankan eksistensi permainan gasing sebagai warisan budaya daerah,” katanya.
Sementara itu, salah seorang perwakilan pemain yang mengikuti sesi latihan, Zikra, mengatakan bahwa latihan rutin bukan hanya bertujuan mengejar kemenangan dalam perlombaan, tetapi juga sebagai sarana mempererat persaudaraan antarkomunitas. Menurutnya, setiap latihan menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan meningkatkan teknik bermain.
Selain teknik permainan, pembuatan gasing juga masih mempertahankan cara tradisional. Gasing yang digunakan para pemain dibuat dari kayu bengris, yang dikenal memiliki karakter kuat dan seimbang sehingga cocok dijadikan bahan utama. Sementara tali gasing dibuat menggunakan kayu jomok, yang telah lama digunakan oleh para pengrajin karena dinilai menghasilkan kekuatan putaran yang baik saat dimainkan.
Para pegiat berharap permainan gasing tidak hanya dikenal sebagai cabang perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan budaya bagi generasi muda. Mereka mengajak anak-anak dan remaja untuk mulai belajar mengenal permainan tradisional tersebut agar nilai-nilai budaya lokal tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Dengan latihan yang semakin intensif menjelang kompetisi, komunitas gasing di Tenggarong optimistis mampu kembali mengukir prestasi. Lebih dari sekadar mengejar gelar juara, semangat yang mereka bangun merupakan upaya menjaga identitas budaya Kutai Kartanegara agar permainan gasing terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi penerus.
(Yuliana)

