Mediasiutama.com, Kutai Kartanegara – Program beasiswa pendidikan kembali menjadi sorotan di Kalimantan Timur, terutama setelah meningkatnya antusiasme mahasiswa terhadap program Gratispoll dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Di tengah tingginya biaya pendidikan dan keterbatasan ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah hulu Kutai Kartanegara (Kukar), kedua program tersebut dinilai menjadi instrumen penting dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda.
Ketua LPPM STIE Tenggarong, Johansyah. Menjelaskan bahwa program KIP-K sejauh ini difokuskan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, sedangkan Gratispoll merupakan program Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang menyasar masyarakat Kaltim berusia di bawah 25 tahun. Menurutnya, kedua skema tersebut memiliki mekanisme berbeda meskipun sama-sama bertujuan membantu keberlangsungan pendidikan mahasiswa.
“KIP-K memang diperuntukkan bagi mahasiswa kategori tidak mampu. Walaupun mahasiswa berprestasi, mekanismenya tetap melalui jalur KIP-K. Sedangkan Gratispoll lebih kepada bantuan biaya pendidikan dari pemerintah provinsi,” ujarnya saat ditemui di STIE Tenggarong, Jalan Wolter Monginsidi, Timbau, Selasa (6/5/2026).
Ia menjelaskan, program KIP-K telah berjalan sekitar lima tahun dan memberikan bantuan biaya hidup sebesar Rp4,8 juta per semester yang langsung masuk ke rekening mahasiswa. Sementara Gratispoll yang mulai dijalankan sejak tahun lalu memberikan bantuan biaya kuliah sekitar Rp4,2 juta dan disalurkan langsung ke rekening kampus.
Menurut Johansyah, respons mahasiswa maupun orang tua terhadap kedua program tersebut sejauh ini sangat positif. Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan diterima sesuai ketentuan tanpa adanya potongan maupun pungutan liar.
“Semua berjalan sesuai standar. Tidak ada pemotongan dana ataupun pungutan. Ini sangat membantu mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui belum semua mahasiswa yang layak mendapatkan bantuan berhasil terakomodasi. Salah satu kendala utama ialah minimnya penyebaran informasi kepada mahasiswa yang membutuhkan, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses komunikasi dan internet.
“Banyak mahasiswa sebenarnya memenuhi syarat, tetapi kurang aktif mencari informasi. Di sisi lain, sosialisasi juga masih perlu diperluas,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kutai Kartanegara, M. Randa Nurahman, S.M. Menurutnya, program beasiswa telah membawa perubahan besar bagi mahasiswa dari daerah terpencil, khususnya yang berasal dari keluarga nelayan dan masyarakat pedalaman.
“Iya, sebelumnya cukup sulit dalam biaya pendidikan. Perjalanan dari wilayah hulu menuju kota saja bisa memakan waktu dua sampai enam jam. Jadi bantuan ini sangat berarti,”ujarnya.
Randa juga mengungkapkan bahwa keberadaan beasiswa turut mendorong mahasiswa untuk meningkatkan prestasi akademik maupun nonakademik. Ia sendiri mengaku pernah meraih penghargaan Predikat Emas dalam kegiatan Relawan Pajak untuk Negeri tahun 2025.
Di sisi kampus, proses seleksi penerima dinilai cukup ketat dan terukur. Mahasiswa diwajibkan melewati tahapan administrasi, wawancara, hingga memenuhi standar akademik tertentu seperti IPK minimal 3,25.
Selain membantu keberlangsungan studi, program beasiswa dinilai mampu menciptakan atmosfer kompetitif yang sehat di lingkungan perguruan tinggi. Sejumlah mahasiswa dari berbagai kecamatan di Kukar bahkan berhasil menorehkan prestasi di bidang olahraga hingga tingkat internasional.
Namun demikian, evaluasi terhadap sistem penyaluran dan sosialisasi dinilai tetap diperlukan. Pemerintah dan institusi pendidikan didorong memperbaiki sistem administrasi, memperjelas alur seleksi, serta memperluas penyebaran informasi melalui media digital maupun fasilitas publik di daerah.
Di tengah semangat pemerataan pendidikan, keberadaan program seperti Gratispoll dan KIP-K bukan sekadar bantuan finansial, melainkan bentuk investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia Kalimantan Timur di masa depan.
(Yuliana w)

