May 23, 2026

Mediasiutama.com, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah berkembangnya paradigma pemasyarakatan modern yang tidak lagi semata berorientasi pada penghukuman, Kampung Asimilasi Lapas Kelas IIA Tenggarong mulai menunjukkan wajah baru pembinaan warga binaan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Kawasan yang berada di Jalan Mangkuraja, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong itu kini diarahkan menjadi ruang pembelajaran keterampilan sekaligus sarana membangun kembali kepercayaan diri warga binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat.

 

Komitmen tersebut terlihat saat Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri melakukan peninjauan langsung ke lokasi kampung asimilasi dalam rangkaian Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Jumat (22/5/2026).

 

Dalam kunjungan itu, Aulia meninjau berbagai sektor pembinaan yang sedang dikembangkan, mulai dari pertanian, perikanan, hingga usaha pencucian kendaraan yang dikelola dengan melibatkan warga binaan.

 

Berbeda dari citra lapas yang identik dengan ruang tertutup dan pembatas sosial, kawasan asimilasi tersebut justru dibangun dengan pendekatan pemberdayaan. Warga binaan diberikan ruang untuk belajar, bekerja, dan berinteraksi melalui aktivitas produktif yang diharapkan dapat menjadi bekal kehidupan setelah menjalani masa pidana.

 

“Kami merasa sangat bangga dengan proses pembinaan yang dilakukan, khususnya di Lapas Tenggarong. Program-program ini menjadi bekal penting agar warga binaan dapat kembali beraktivitas dan diterima di tengah masyarakat,” ujar Aulia.

 

Menurutnya, pola pembinaan yang dijalankan menunjukkan keseriusan jajaran pemasyarakatan dalam membangun keterampilan sekaligus mempersiapkan proses reintegrasi sosial warga binaan. Ia menyebut, sebelum mengunjungi Lapas Tenggarong, dirinya juga telah meninjau Lapas Perempuan dan selanjutnya dijadwalkan mengunjungi Lapas Anak sebagai bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap pembinaan pemasyarakatan secara menyeluruh.

 

Dalam dialog bersama warga binaan, Aulia juga menerima sejumlah masukan terkait penguatan pembinaan mental dan spiritual. Pemerintah Kabupaten Kukar, kata dia, berencana mengintegrasikan program keagamaan daerah ke dalam sistem pembinaan lapas melalui program “Satu Da’i Satu Desa”.

 

“Pemerintah daerah memiliki program Satu Da’i Satu Desa dan nantinya akan kita dorong masuk ke Lapas Tenggarong sebagai bagian penguatan pembinaan keagamaan,” katanya.

 

Tak hanya fokus pada pembinaan kepribadian, kawasan kampung asimilasi tersebut juga dipersiapkan menjadi desa binaan yang terintegrasi dengan program ketahanan pangan daerah. Sejumlah rencana pengembangan mulai disiapkan, seperti pembangunan kafe, kolam ikan, pertanian hortikultura berupa kangkung dan kacang panjang, hingga aktivitas ekonomi produktif lainnya.

 

Langkah itu dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pembinaan yang tidak berhenti di dalam lapas, melainkan mampu membuka peluang ekonomi dan kemandirian bagi warga binaan setelah bebas nanti. Model pembinaan berbasis produktivitas seperti ini juga dipandang mampu mengurangi stigma sosial terhadap mantan warga binaan.

 

Aulia secara khusus mengajak masyarakat agar membuka ruang penerimaan bagi warga binaan yang telah menyelesaikan masa pembinaan. Menurutnya, dukungan sosial menjadi faktor penting agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan produktif.

 

“Mereka telah menjalani proses pembinaan yang luar biasa. Kami berharap masyarakat tidak bersikap antipati dan dapat menerima mereka kembali dengan baik,” tegasnya.

 

Dalam kesempatan itu, Pemkab Kukar juga menyerahkan bantuan masing-masing satu ekor sapi kurban untuk Lapas Tenggarong, Lapas Anak, dan Lapas Perempuan menjelang Hari Raya Iduladha. Secara keseluruhan, pemerintah daerah menyiapkan sekitar 70 ekor sapi kurban yang akan disalurkan ke berbagai wilayah sesuai kriteria penerima yang telah ditetapkan.

 

Kunjungan tersebut menjadi penegasan bahwa pembinaan warga binaan kini tidak lagi dipandang sebagai proses administratif semata, melainkan bagian dari investasi sosial jangka panjang untuk membangun kembali kualitas sumber daya manusia yang siap kembali hidup berdampingan di tengah masyarakat.

 

(Yuliana w)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *