July 4, 2026

Mediasiutama.com, Kutai Barat – Penguatan nilai toleransi kembali menjadi sorotan menjelang pelaksanaan Tabligh Akbar yang dijadwalkan menghadirkan Ustaz Abdul Somad (UAS) di Kabupaten Kutai Barat. Di tengah munculnya berbagai respons dari masyarakat, tokoh agama Kristen di daerah tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan sikap saling menghormati serta menahan diri dari tindakan yang berpotensi memicu perpecahan.

 

Pendeta Yohanes Traksin menegaskan bahwa perbedaan pandangan maupun keyakinan merupakan bagian dari kehidupan berbangsa yang harus disikapi dengan bijaksana. Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk menjalankan kegiatan keagamaan selama dilaksanakan sesuai ketentuan hukum dan tetap menghormati keberagaman yang ada.

 

“Saya berpendapat tidak perlu melakukan aksi penolakan terhadap siapa pun. Jadilah tuan rumah yang baik,” ujar Pendeta Yohanes Traksin, Kamis (2/7/2026).

 

Ia menilai, menjaga suasana damai jauh lebih bermanfaat dibandingkan membangun narasi yang dapat memperuncing perbedaan. Kutai Barat, yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama, dinilai harus tetap mempertahankan identitas tersebut.

 

Pendeta Yohanes mengingatkan bahwa penyebaran ujaran kebencian maupun provokasi terhadap kelompok tertentu hanya akan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan sikap saling menghargai serta

menghindari tindakan yang dapat merusak persaudaraan.

 

“Jangan menabur benih kebencian kepada kelompok mana pun agar kita tidak menuai hal yang sama di kemudian hari,” katanya.

 

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar energi masyarakat diarahkan pada kegiatan yang memperkuat persatuan, seperti doa bersama lintas agama dan dialog antarumat beragama. Menurutnya, langkah tersebut akan menjadi simbol nyata bahwa masyarakat Kutai Barat mampu menjaga kebersamaan di tengah perbedaan keyakinan.

 

“Lebih baik kita mengadakan gerakan doa bersama lintas agama daripada melakukan hal-hal yang berpotensi menciptakan situasi yang tidak kondusif di Kutai Barat,” ujarnya.

 

Di sisi lain, Pendeta Yohanes juga berharap panitia penyelenggara Tabligh Akbar dapat memastikan materi ceramah yang disampaikan berfokus pada pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan, membangun persaudaraan, serta tidak memuat narasi yang menyinggung agama maupun kelompok lain. Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga rasa saling menghormati di tengah masyarakat yang majemuk.

 

“Kami berharap panitia dapat memastikan ceramah berlangsung dengan baik dan tidak menyinggung agama atau kelompok lain, sehingga situasi kamtibmas tetap terjaga,” tuturnya.

 

Selain peran masyarakat dan panitia, ia juga memberikan apresiasi kepada aparat keamanan yang terus melakukan langkah antisipatif guna menjaga stabilitas wilayah. Pendeta Yohanes meyakini sinergi antara masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah, serta aparat keamanan akan menjadi kunci utama terciptanya situasi yang aman selama kegiatan berlangsung.

 

“Kami percaya TNI dan Polri dapat menjaga kondusivitas di Kutai Barat maupun Kalimantan Timur. Dengan langkah antisipasi yang baik, toleransi antarumat beragama akan tetap terpelihara,” pungkasnya.

 

Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa toleransi bukan hanya sebatas sikap menghargai perbedaan, melainkan juga komitmen bersama untuk menjaga ruang publik tetap damai. Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang plural, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan diyakini menjadi fondasi utama untuk mempertahankan kerukunan, memperkuat persatuan, serta memastikan setiap kegiatan keagamaan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan saling menghormati.

 

(Yuliana)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *