Mediasiutama.com, TENGGARONG – Kain tenun ulap doyo, warisan budaya khas Kalimantan Timur, terus bertahan sebagai simbol identitas masyarakat Dayak meski menghadapi berbagai tantangan zaman. Ditenun dari serat daun doyo yang tumbuh alami di hutan, kain ini tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga sarat makna filosofis yang diwariskan secara turun-temurun.
Hal tersebut disampaikan oleh narasumber Imam Rojaki saat ditemui di Jalan Mangkuraja 6, Pokan Taqaq, Tenggarong, Kutai Kartanegara, pada Jumat (17/3/2026). Ia menjelaskan bahwa keterampilan menenun umumnya mulai dikenal sejak kecil, karena lingkungan keluarga yang telah lama bergelut dalam tradisi tersebut.
Namun, untuk benar-benar menekuni profesi sebagai penenun, biasanya dilakukan setelah seseorang berkeluarga.
“Kalau hanya sekadar tahu, sejak kecil kami sudah tahu karena ini pekerjaan orang tua. Tapi kalau benar-benar menekuni, biasanya setelah berkeluarga,” ujar Imam Rojaki.
Menurutnya, produk ulap doyo memiliki pasar yang cukup spesifik, mayoritas menyasar kalangan ibu rumah tangga dan pecinta kain tradisional. Kain ini diolah menjadi berbagai produk seperti pakaian, tas, hingga aksesoris, tergantung pada kreativitas pengrajin.
“Biasanya dibuat baju atau tas, tergantung pesanan dan kreativitas. Target pasarnya kebanyakan ibu-ibu,” tambahnya.
Meskipun belum dikelola secara ekspor formal, hasil karya ini pernah diminati oleh pembeli dari luar negeri seperti Prancis, Jerman, Australia, hingga Jepang. Namun, keterbatasan teknis dan standar kualitas tinggi dari pasar internasional masih menjadi tantangan bagi para pengrajin lokal.
“Kami pernah kirim ke luar negeri, tapi bukan ekspor resmi. Permintaan mereka tinggi, tapi finishing-nya rumit dan kami belum bisa memenuhi standar itu,” jelasnya.
Dalam proses produksinya, tantangan terbesar terletak pada teknik penyambungan serat dan pembuatan motif. Tidak semua pengrajin mampu menghasilkan motif dengan tingkat kerumitan tinggi.
“Yang paling sulit itu membuat motif. Tidak semua orang bisa, karena setiap motif punya makna dan teknik tersendiri,” ungkap Imam.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap motif memiliki filosofi tersendiri, mulai dari motif harimau yang melambangkan kekuasaan, naga sebagai simbol kekuatan, hingga motif flora dan fauna yang mencerminkan kehidupan masyarakat. Pada masa lalu, motif bahkan menunjukkan status sosial pemakainya.
Bahan baku serat doyo saat ini sebagian besar diperoleh dari wilayah Kutai Barat, karena di beberapa daerah lain telah berkurang akibat ekspansi industri seperti pertambangan dan perkebunan sawit. Selain itu, minat generasi muda terhadap kerajinan ini juga mengalami penurunan.
“Sekarang banyak yang beralih ke sawit. Dulu menenun itu pekerjaan sampingan setelah dari kebun, tapi sekarang yang benar-benar tekun sudah semakin sedikit,” katanya.
Dari sisi harga, ulap doyo memiliki variasi yang cukup luas, tergantung ukuran, warna, dan kombinasi bahan. Kain polos dihargai ratusan ribu rupiah, sementara yang telah melalui proses pewarnaan atau dikombinasikan dengan bahan lain seperti katun dan sutra dapat mencapai jutaan rupiah.
Secara historis, ulap doyo memiliki asal-usul yang unik. Berdasarkan cerita turun-temurun, kain ini bermula dari mimpi seorang perempuan yang kemudian menemukan daun doyo sebagai bahan yang dapat diolah menjadi serat.
“Dulu katanya berawal dari mimpi, lalu dicoba di hutan dan ternyata benar bisa jadi serat. Dari situlah ulap doyo berkembang sampai sekarang,” tuturnya.
Meski kini telah mengalami perkembangan dengan sentuhan kontemporer, motif asli ulap doyo tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Upaya pelestarian pun terus dilakukan oleh kelompok pengrajin yang kini berjumlah puluhan orang.
Di tengah gempuran industri tekstil modern, ulap doyo tetap menjadi bukti bahwa kearifan lokal memiliki nilai yang tak tergantikan bukan hanya sebagai kain, tetapi juga sebagai identitas dan warisan budaya yang hidup dari generasi ke generasi.
(Yuliana w)

