December 10, 2025


Mediasiutama, KUTAI KARTANEGARA – Tradisi laduman di Desa Jantur bukan sekadar penanda waktu berbuka puasa, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong yang tetap terjaga di tengah masyarakat. Sejak diperkenalkan pada 1950, laduman menjadi bagian dari identitas desa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap Ramadan, warga desa bekerja sama membuat laduman, meriam tanpa peluru yang terbuat dari batang pohon besar. Tradisi ini dilakukan secara sukarela, dengan dana yang dikumpulkan dari iuran warga. Setiap tahunnya, sekitar Rp 5 juta dikumpulkan untuk membeli bahan baku dan konsumsi selama proses pembuatan.

“Laduman ini bukan hanya soal tradisi, tapi juga kebersamaan. Warga saling membantu, dari mencari bahan, mengukir batang pohon, hingga menyiapkan karbit untuk menyalakan meriam,” ujar Kepala Desa Jantur, Abdul Aziz, pada Minggu (2 Maret 2025).

Masyarakat Desa Jantur percaya bahwa suara laduman yang menggema ke berbagai penjuru bukan hanya sebagai penanda berbuka, tetapi juga simbol persatuan mereka. Laduman ditempatkan menghadap ke dua arah berbeda, ke hulu dan hilir, agar suaranya terdengar luas hingga ke daerah lain seperti Kubar, Penyinggahan, Tanjung Isuy, dan Muara Muntai.

Mukmin, salah satu warga desa, menuturkan bahwa tradisi ini berawal dari keterbatasan akses masyarakat terhadap alat penunjuk waktu. “Dulu, tidak semua orang memiliki jam. Karena itu, almarhum Imam Yahya menciptakan laduman sebagai tanda berbuka puasa. Kini, meski teknologi sudah maju, kami tetap mempertahankan tradisi ini karena nilai kebersamaannya,” jelasnya.

Laduman yang dibuat bisa bertahan sepanjang Ramadan, selama tidak mengalami kerusakan. Setiap hari, warga mengisi karbit lima menit sebelum azan Magrib berkumandang. Biasanya, meriam ini ditembakkan dua kali sehari dengan stok karbit sekitar 20 kilogram selama sebulan penuh. Jika masih tersisa, laduman kembali dibunyikan saat malam takbiran Idulfitri sebagai bentuk syukur.

“Laduman bukan sekadar suara ledakan, tapi suara kebersamaan. Kami berharap anak-anak muda bisa terus menjaga dan melanjutkan tradisi ini,” tambah Riyadi, warga lainnya.

Dengan semangat gotong royong yang tetap terjaga, masyarakat Desa Jantur bertekad menjaga laduman sebagai warisan budaya yang tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menjadi kebanggaan bersama.

Adv/Diskominfo Kukar

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *